Jumat, 22 Juli 2011

Petunjuk Peluang Bertrading Saham

TIPS DAN TRIK CEPAT BERTRADING SAHAM

1. Saat indeks Dow Jones hijau, Hangseng hijau, maka IHSG berpotensi kuat untuk hijau

IHSG (Index Harga Saham Gabungan) kadang bergerak anomali melawan tren bursa regional. Namun, umumnya IHSG selalu mengikuti tren indeks global dan regional. Artinya, jika indeks global dan regional seperti lapangan bola (hijau semua), maka IHSG berpotensi untuk hijau pula. Hijau berarti harga saham naik (bullish), merah berarti harga saham turun (bearish).

2. Penawaran saham perdana IPO (initial public offering) akan mendongkrak harga saham

Peluncuran saham perdana IPO big caps atau medium caps selalu direspon antusias oleh pasar dan harganya akan terus meninggi. Investor yakin saham tersebut bagus untuk dikoleksi. Biasanya seminggu paska IPO saham mid caps akan mengalami koreksi akibat aksi profit taking.

Tips: saham IPO big caps layak dikoleksi dalam waktu lama, sedangkan saham IPO mid caps simpan kurang dari seminggu.

3. Always sell on Friday

Seperti sudah terbangun persepsi penduduk bumi bahwa jumat adalah horror day. Seperti juga pemain saham Indonesia, Jumat adalah awal ketidak pastian untuk sabtu dan minggu. Apapun bisa terjadi selama libur, seperti aksi terorisme, bencana alam, tutup pada jumat malam yang akan menekan IHSG pada hari senin. Meskipun tidak selalu terjadi.

4. Menjelang libur panjang

Menjelang libur panjang biasanya isi kepala investor dimuati kekhawatiran yang sama yaitu Ketidak Pastian. Pengalaman mengajarkan untuk tidak menyimpan saham selama masa libur panjang. Begitu rentan terhadap berbagai kejadian yang bisa menurunkan harga saham. Sebagai contoh menjelang libur panjang lebaran, biasanya emiten atau market maker secara bertahap mengerek harga sahamnya ke level yang lebih tinggi, untuk mengantisipasi kejatuhan paska libur berakhir.

Tips: turut melakukan profit taking pada hari terakhir menjelang libur panjang

5. Big Caps akan buy back

Logikanya big caps yang melakukan buy back (membeli kembali saham yang beredar) , akan mengurangi jumlah saham mereka yang beredar di pasar dan harga sahamnya berpotensi terdilusi semakin tinggi.

Tips: saham big caps dan mid caps layak dikoleksi saat rumor mulai beredar atau menjelang pelaksanaan buy back.

6. PER big caps di bawah rata-rata industri

Nilai PER big caps atau mid caps yang masih rendah di bawah rata rata industri menjadi sangat layak untuk anda koleksi. Saham ini hanya menanti trigger untuk segera melesat.

Tips: saham big caps layak dikoleksi

7. Emiten pengendali harga global

Emiten pengendali harga timah dunia, seperti Timah (TINS), sangat sensitif terhadap meningkatnya permintaan dan harga komoditas timah, kebijakan pengetatan penambangan tanpa izin PETI, pengurangan kuota ekspor dan sebagainya.

TIPS: saham emiten layak dikoleksi, saat harga komoditas sedang naik dan bergairah.

8. Harga minyak dunia bergerak naik, diikuti naiknya harga komoditas batu bara, gas, dan CPO.

Bila harga energi dunia dan komoditas meningkat, maka harga saham emiten berbasis sumber daya alam, migas dan perkebunan kelapa sawit akan terus terkerek naik. Emiten bidang ini antara lain BUMI, ANTM, ADRO, MEDC, INCO, Gas Negara (PGAS), Astra Agro (AALI), Sampoerna Agro (SGRO)

9. Melirik stock split

Bagi saham big caps yang terlalu cepat pertumbuhan harga sahamnya , dan berakibat kurang likuid karena terlalu mahal bagi investor menjadi alasan emiten melakukan stock split. Investor meyakini bahwa harga saham akan naik menjelang dan setelah pelaksanaan stocksplit. Karena memang saham big caps berfundamental bagus. Namun berhati-hati terhadap rumor stock split saham abal-abal yang biasanya hanya mengelabui investor.

10. Right Issue akan membuat harga saham terdilusi

Right Issue (penerbitan saham baru) adalah cara lain emiten memperoleh dana selain meminjam ke bank atau menerbitkan obligasi. Persoalannya, penerbitan saham baru akan menyebabkan jumlah saham yang beredar semakin besar, sehingga akan menyebabkan harga saham tersebut terdilusi. Umumnya right issue kurang diminati investor dan meresponnya dengan menjual sahamnya sebelum terjadi right issue. Tidak jarang pula right issue justru turut mendongkrak harga saham.

Tips: Berhati-hati! Sebaiknya menjual saham saat mulai menedengar rumor dan menunda membeli hingga selesai pelaksanaan right issue.

11. Stock Reverse saham 50 perak, hati hati

Aturan terbaru Bappepam adalah harga saham serendahnya senilai lima puluh perak (Rp.50). Dan agar saham tidur itu segera bangun dari tidurnya, kalau tidak mau kena sanksi delisting oleh otoritas bursa. Namun , anda jangan tergoda dengan murahnya harga saham lima puluh perak tersebut karena mungkin anda berpikir harganya tidak mungkin turun lagi karena sudah mentok, dan hanya menunggu harga bergerak naik. Namun anda harus hati hati dengan adanya aksi stock reverse.

Contoh:

Anda memiliki saham NGAWUR pada harga Rp 50, dan emiten melakukan stock reverse 10:1 artinya, setiap 10 lembar saham yang anda miliki akan berubah menjadi hanya 1 lembar saja, dengan konsekuensi harga saham tersebut berubah harganya jadi 10 kali lebih besar menjadi Rp 500. Persoalannya adalah harga saham tersebut biasanya akan terkoreksi kembali ke harga lima puluh perak.

Tips: Jangan tergoda!

12. Waspada rumor akusisi

Salah satu cara bandar menggoreng saham adalah dengan cara meniupkan rumor akuisisi. Masuknya investor asing hendak mengakuisisi sebuah emiten, akan mendongkrak harga saham karena akan mendapatkan sumber dana dan manajemen baru. Namun seringkali rumor akusisi hanya isapan jempol yang membuat investor meradang karena keburu mengkoleksi saham.

Namun apabila emiten big caps hendak mengakuisisi emiten big caps lain dengan alasan meningkatkan efisiensi akan menjadi good news. Maka ini adalah isu bagus, oleh karenanya investor harus benar benar mencermati alasan akuisisi.

13. Saham big caps koreksi menyentuh level support (5 hingga 15 persen)

Aksi profit taking akan mengkoreksi harga. Apabila saham big caps terkoreksi cukup dalam menyentuh level support atau terkoreksi 5 hingga 15 persen, hampir pasti harga akan rebound (mental kembali).

Tips: koleksi big caps ketika harganya sedang murah

14. Selalu pantau volume transaksi

Volume transaksi dapat digunakan sebagai alat konfirmasi untuk menduga apakah tren akan berlanjut atau berbalik arah. Saat volume transaksi meningkat, harga akan cenderung naik. Dan apabila transaksi volume naik secara drastis bisa menjadi sinyal bahwa akan terjadi pembalikan tren, panic buying. Meskipun tetap harus waspada.

15. Rajin membagi dividen

Perusahaan BUMN sangat rajin membagi dividen dengan alasan mengisi kas pemerintah. Setidaknya, tiga kali dalam setahun perusahaan plat merah ini membagi sahamnya. Perusahaan tersebut antara lain, Gas Negara (PGAS), Aneka Tambang (ANTM), Telkom (TLKM), Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), Semen Gresik (SMGR). Tidak ketinggalan emiten berbasis consumer goods juga rajin membagi saham seperti unilever (UNVR), Indofood (INDF)

Tips: bagi investor jangka panjang yang menginginkan return dan dividen , saham big caps jenis ini layak dikoleksi.

16. Good news for new contract

Bila emiten big caps melakukan kerjasama atau kontrak dengan emiten lain untuk memasok produknya dalam jangka waktu panjang, akan menjadi signal positif bagi harga sahamnya.

17. “January effect”

Para fund manager, reksadana, investor kakap, investor sejati biasanya mulai mereposisi portofolionya untuk setahun ke depan.


Sumber: sahamonline.com

0 komentar:

Poskan Komentar