Sabtu, 23 Juli 2011

Bursa Crash dan Tips nya

BURSA CRASH

Mundur ke belakang, sejarah crash bisa dimulai Februari 1673. Atau lebih dikenal peristiwa Tulip Bulb di Belanda. Zaman itu, masa keemasan perdagangan bunga tulip di Eropa. Satu kontrak bunga tulip dihargai luar biasa tinggi (seratus kali harga wajarnya), kemudian dalam waktu singkat harganya layu tak berharga.

Sejarah terus mencatatkan kisahnya, terakhir 2008 bursa saham Amerika rontok akibat supreme mortage. Sebuah program stimulus pengadaan rumah bagi kalangan mengengah bawah yang akhirnya macet karena gagal bayar. Kerumitan tersebut semakin parah ketika akumulasi kerugian terjadi pada hampir seluruh bank yang menyalurkan kredit tersebut. Berentetan perusahaan besar berguguran, bangkrut bersama 94 bank termasuk Lehman Brother yang telah eksis sejak tahun 1850. Seperti Bubble (gelembung udara) yang meletus karena terlalu besar.

Parahnya, krisis ini ditunggangi para spekulan yang terus mengerek harga minyak dunia dan komoditas hingga harga meningkat menembus batas psikologis. Merembet ke belahan bumi lain seperti Eropa dan Asia, termasuk IHSG turut berbagi dan merasakan getirnya penderitaan rakyat Amerika.

Pada kondisi pasar lagi crash, seluruh saham tak terkecuali big caps turut anjlok. Maski bedanya saham big caps lebih cepat pulih dibandingkan saham keranjang sampah. Sangking murahnya, saham keranjang sampah banyak yang menjadi kertas toilet akhirnya.


Tips Menghindar pada Kondisi Bursa Saham Crash:

  1. Apabila anda memprediksi bahwa pasar global akan crash dan sedang menuju krisis, meski menyakitkan, jangan ragu untuk segera menjual saham anda pada harga berapapun. Dan bila sudah terjual, tunggulah hingga harga sudah sangat murah dan lakukan averaging up (membeli secara bertahap sedikit demi sedikit).
  2. Biasanya investor selalu terlambat karena panic selling dan tidak bisa berbuat apa-apa, menjual pun kadang tidak laku, keburu harga turun.
  3. Kalau anda memiliki saham yang belum sempat terjual, apa boleh buat, tunggulah hingga harga dapat benar-benar murah dan lakukan averaging down.
  4. Sebenarnya kondisi pasar dimana air mata banyak yang tumpah adalah saat yang tepat untuk mulai mengkoleksi saham diskon secara bertahap, khususnya saham big caps.
  5. Dalam kondisi bursa crash, kalau diizinkan menggunakan fasilitas short selling, bisa jadi anda akan menjadi milyuner selanjutnya.

Sumber: sahamonline.com

0 komentar:

Poskan Komentar